Beranda » 2011

Yearly Archives: 2011

Belajar dari Katrol Berganda

Di kota, sumur yang berasal dari air resapan itu mungkin sudah tidak ada. Air
bersih yang ada di kota berasal dari keran-keran PDAM yang dialirkan dari air
sungai yang disuling kembali, atau berasal dari air tanah yang dibor secara
dalam dan disedot melalui Jet-Pump. Anak-anak kota mungkin hanya bisa melihat
sumur itu dari gambar.

Padahal, sumur itu mempunyai banyak hal yang bisa kita pelajari. Selain tidak merusak
air tanah secara keseluruhan, sumur juga sering dianggap pada berbagai
perlambang. Mungkin tidak banyak diperhatikan orang, tetapi setelah “belajar”
dari Pusat Peragaan Science di TMII, saya mulai mengerti banyak, mengapa saat
orang menimba di sumur itu mesti menggunakan katrol.

Menimba air adalah salah satu pekerjaan yang cukup berat, apalagi jika ember yang
digunakan sebagai timba cukup besar. Nah, jika kita langsung menimba dengan
tali dan mengangkat ember tersebut, maka timba itu akan menjadi berat. Tetapi
kemudian, di setiap sumur biasanya dipasang KATROL. Dengan KATROL, ternyata
beban yang sama bisa diangkat secara lebih mudah. Mengapa demikian?

Saya mencoba prinsip ini di TMII. Berat benda 10 Kg, ternyata cukup berat kalau
diangkat langsung. Dengan menggunakan satu katrol, benda ini menjadi lebih
mudah untuk diangkat. Dan menariknya, prinsip katrol ini bisa dilakukan dengan
katrol berganda, artinya terdiri dari beberapa katrol, dan membuat kita jauh
lebih ringan dalam mengangkat beban.

Lalu apa yang membuatnya lebih ringan? Ternyata, salah satunya adalah membagi titik
berat beban ke dalam beberapa titik yang dilakukan secara serentak. Semakin
tersebar berat itu ke berbagai titik, akan semakin ringan benda itu kita angkat.

Sebuah prinsip sederhana, tetapi bagi saya memberikan banyak pelajaran dalam hidup.
Pertama, beban yang berat itu kalau kita tanggung bersama, akan jauh menjadi
lebih ringan. Bukan bebannya yang bertambah ringan, tetapi karena berat beban
itu disebar ke beberapa orang. Di sinilah prinsip kerjasama itu diperlukan,
bahwa risiko dan tanggung jawab mesti disebar ke banyak orang agar beban hidup
ini tidak kita tanggung sendiri.

Kalau diibaratkan, beban itu seperti sebuah kerja dan produktivitas. Jika kita
sendiri melakukan, hanya sedikit produktivitas yang bisa kita ciptakan. Tetapi
dengan melakukannya dalam sebuah tim kerja yang baik, akan menciptakan lebih
banyak karya besar. Karena itu, tugas kita adalah membuat diri kita
masing-masing lebih fleksibel dan mampu bekerjasama dalam sebuah tim. Karena di
organisasi modern, tim kerja menjadi tulang punggung hidupnya organisasi.

Kedua, untuk sukses, kita tidak bisa jalan sendiri. Kita perlu bantuan orang lain.
Jangan pernah ragu untuk minta bantuan orang lain, dan siapkan diri kita untuk
mau dibantu. Bukan berarti tidak percaya diri, tetapi begitulah, seperti kita
menimba air, dengan adanya berbagai bantuan orang lain, akan lebih mudah kita
“mengatrol” pengembangan diri kita dengan bekal potensi dan kemampuan yang
sudah kita miliki.

Gimana caranya agar orang mau membantu kita? Mario Teguh bilang, siapkan diri kita
sendiri agar kita “layak” dibantu orang lain. Karena bagaimanapun, orang yang
mau bantu kita juga tidak sembarangan akan ngasih bantuan ke kita kalau ia
merasa kita tidak layak. Tidak mungkin orang akan bekerja sama dengan kita,
atau menawari kita jabatan yang lebih tinggi jika kita tidak siap atau orang
melihat kita tidak layak. Karena itulah, penting bagi kita menyiapkan diri
secara baik dari berbagai sisi; keterampilan, pengetahuan, sikap, agar orang
melihat diri kita sebagai orang yang “layak”.

 

http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/24/belajar-dari-katrol-berganda/24
March 2010

MENCOBA TTS ONLINE

TEKA TEKI SALING SILANG SENBUDTRAM KELAS 6 SD

http://www.4shared.com/document/4q88vl6S/SBK_TTS_2.html

Sudah Spesialkah Anda?

Suatu hari, seorang motivator terkenal membuka seminarnya dengan cara unik.
Sambil memegang uang pecahan AS $ 100, ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang mau uang ini?”
Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang minat.

“Saya akan berikan uang ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.”
Ia berdiri mendekati hadirin.
Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat.

Lalu bertanya lagi, “Siapa yang masih mau uang ini?”
Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

“Baiklah,” jawabnya, “apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil menjatuhkan uang ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. :gila:
Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

“Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?”
Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

“Hadirin sekalian, Anda baru saja mendapatkan sebuah pelajaran penting.
Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya.
Biarpun lecek dan kotor, uang ini tetap bernilai 100 dolar.”

Dalam kehidupan ini, kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita.
Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.
Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda.

So, setiap kali merasa diri tak berarti, ingatlah akan selembar uang 100 dolar tersebut.
Jangan pernah lupa – Anda adalah SPESIAL.