Karya & Kreasi
Membohongi Ibu
Naskah oleh : Md. Hashim
Perwatakan : Hasan
Badu
Ibu Hasan
Waktu : Pagi hari
Tempat : Di halaman dan teras rumah Hasan
Adegan I
Hasan dan Badu memasuki halaman dengan membawa tas sekolah, seakan-akan baru pulang dari sekolah, padahal sebetulnya mereka membolos.
Badu : Mengapa kau nampak begitu murung, Hasan?
Hasan : Tadi ketika ibu berangkat ke pasar, ibuku melihat aku bemain-main di jalan.Badu : Tentu dia pikir bukan kamu, tetapi orang lain.
Hasan : Masih untung kalau ia beranggapan begitu, tetapi kalau betul-betul melihat aku, apa yang bisa aku lakukan padanya.
Badu : Ya, katakan saja Pak Guru mengijinkan kita pulang lantaran kepala kita pusing.
Hasan : Tidak, tidak … Ibu tak akan percaya. Bagaimana mungkin tiba-tiba kepala kita pusing bersamaan?
Badu : Betul juga. Ibumu pasti tidak begitu mudah percaya dengan alasan seperti itu.
Hasan : Paling baik kita mengatakan terus terang saja, apa yang telah kita lakukan sebenarnya.
Badu : Jangan, jangan. Begini San, bagaimana kalau kita katakan bahwa yang dilihat itu bukan engkau, tetapi katakanlah si Rahim, teman sekelas kita, bagaimana?
Hasan : Wah, ide yang cemerlang, mungkin bisa kita lakukan.
Masuk Ibu Hasan dengan membawa barang-barang belanjaan.
Ibu : Ke mana saja kalian berdua pagi ini?
Badu : Kami baru saja pulang dari sekolah, Bu.
Ibu : Kau bersama Hasan? Saya seperti melihat kalian ada di jalanan pada waktu jam pelajaran. Apa itu benar?
Hasan : (berbisik pada Badu) Katakan saja terus terang. (Badu menggeleng)
Badu : Ee … yang ibu lihat itu bukan Hasan, tetapi anak lain yang mirip dengan Hasan.
Ibu : Oh, begitu. Saya percaya, deh. Tetapi, apa yang kau kerjakan bersama anak itu di jalan, Badu?
Badu : (kaget) Eh … saya … o, ya, Pak Guru mengatakan kepada saya agar mengantarkan si Rahim pulang, karena perutnya sakit.
Ibu : Oh, begitu …?
Hasan : (gugup) Bb … be … Benar, Bu. Bukan saya yang ibu lihat, tetapi si Rahim.Ibu : Apakah kau yakin itu?
Badu : Betul, Bu, saya yakin.
Ibu : Baik, kalau begitu saya ingin melihat bahwa anak itu betul-betul si Rahim. Saya pikir tidak ada anak lain yang serupa Hasan. Saya ingin melihat anak itu.
Hasan : (kaget) Tet … tetapi Bu, dia tinggalnya jauh, lima kilometer dari sekolah.
Badu : I … iya, dia tidak bisa datang kemari karena perutnya sakit.
Ibu : Mengapa tidak, saya telah melihatnya bermain-main di jalan. Berarti sakit perutnya sudah sembuh.
Hasan : Tapi bu ….
Ibu : Sudah! Jangan banyak alasan lagi! Ibu bilang ingin melihat Rahim. Sekarang pergilah dan bawa anak itu kemari.
Hasan : Tapi, bu, saya lapar. Saya makan dulu, ya?
Ibu : Tidak! Engkau tidak boleh makan sebelum bisa membawa anak itu kemari. Sekarang pergi, cari anak itu!
Ibu masuk ke dalam rumah.
Hasan : (kesal) Ini semua gara-gara kamu! Bagaimana kita bisa membawa si Rahim bila dia hanya ada dalam khayalanmu. Kita bisa saja membawa sembarang anak, tetapi mana ada yang mirip dengan aku.
Badu : (cuek) Alaaah, masa bodoh dengan apa yang akan kamu lakukan. Aku lapar. Aku mau makan dulu.
Hasan : (marah) Tidak bisa! Kamu tidak boleh makan sampai dapat menolong aku. Atau, jika tidak mau menolong aku, akan ku katakan yang sebenarnya kepada ayahmu.
Badu : (kaget dan takut) Jangan … jangan. Jangan kau lakukan itu.
Hasan : Aku akan melakukannya jika kamu tidak mau menolongku. Karena, kamu yang mengajak kita berbohong.
Badu : Baik, baik … baiklah. Tetapi, bagaimana kita dapat menemukan anak yang persis denganmu? (bingung) Ah … apa yang harus kita lakukan?
Hasan : Itulah, aku tidak tahu.
Badu : Tunggu, aku tahu. Kita pergi ke semak-semak sana dan mengganti pakaian kita. Kau mengenakan pakaianku, dan aku mengenakan pakaianmu. Bagaimana? Ayo!
Hasan : Tapi, buat apa?
Badu : Begini, bila kita kembali, engkau bisa mengatakan kepada ibumu bahwa engkaulah si Rahim.
Hasan : Waaah! Tidak, tidak! Lebih baik kita berkata terus terang sajalah. Aku betul-betul telah kelaparan nih!
Badu : Jangan gusar, kita coba saja. Masih ada peluang untuk menyelamatkan kita dari kemarahan ibumu.
Adegan II
Di tempat yang sama tak lama kemudian. Hasan dan Badu masuk dengan mengenakan pakaian yang sudah saling ditukarkan.
Badu : Ingat, kau adalah si Rahim, bukan Hasan lagi.
Hasan : Aku ragu. Begitu melihat aku, ibu akan mengenali aku.
Badu : Coba ubah suaramu, kecilkan sedikit. Nah, itu ibumu datang bersiaplah!
Ibu Hasan masuk.
Badu : Selamat siang …. Inilah si Rahim, Bu Hasan. Saya telah membawanya.
Hasan : (dengan suara dibuat-buat) Selamat siang, Bu!
Ibu : Aih, aih. Kau telah datang lebih cepat dari dugaanku. Lho, tapi mana si Hasan?Badu : Eee … tadi ia bilang agak kecapaian. Jadi, ia saya tinggalkan di belakang. Katanya ia akan segera menyusul.
Ibu : Jadi, engkau adalah Rahim. Engkau mirip sekali dengan Hasan.
Badu : Nah, Ibu telah melihat sendiri, kan, anak yang bernama si Rahim seperti yang telah kami katakan tadi.
Ibu : Baiklah. Terima kasih engkau mau datang. Sekarang kamu boleh kembali pulang.
Hasan : Baik, Bu. Selamat siang!
Ibu : Selamat siang. Oya, Badu katakan kepada Hasan agar segera pulang.
Badu : Baik, Bu, akan saya sampaikan.
Hasan dan Badu ke luar. Beberapa saat kemudian mereka masuk lagi. Keduanya sudah bertukar pakaian kembali.
Hasan : Aduuuh, saya lapar sekali. Bu, saya mau makan.
Ibu : Lho? Kamu kok kembali lagi Rahim? Apa ada yang ketinggalan?
Hasan : Ha? Bu, saya ini Hasan, bukan Rahim.
Badu : Betul Bu, ia Hasan.
Ibu : Siapa bilang? Awas ya, kalian jangan berbohong lagi.
Hasan : Benar, Bu. Saya ini anak ibu, masa Ibu lupa?
Ibu : Iya, saya tahu. Engkau Rahim. Anak ibu, Hasan, sudah ada di dalam rumah dan sedang makan.
Hasan : (Heran dan melihat ke Badu lalu merengek ke ibunya) Tapi, sayalah Hasan. Saya anak ibu. Bagaimana Ibu bisa mengatakan punya anak lain?
Ibu : Memang, satu-satunya anak ibu ada di dalam rumah. Nah, sekarang pulanglah ke rumah kalian masing-masing. Nanti kalian dicari orang tua kalian.
Hasan : (Tambah merengek dan mulai terisak-isak) Semua ini adalah kebohongan belaka, Bu. Kami membolos sekolah tadi pagi dan bermain di jalan. Maafkan saya Bu. Saya tidak akan melakukannya lagi (menangis).
Ibu : Mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya sejak semula? Nah, itu ganjaranmu. Mulai sekarang jangan coba-coba membohongi ibu lagi. Nah, sekarang makanlah sana. Dan kau Badu, pulanglah segera. Saya telah bertemu dengan ayahmu dan mengatakan bahwa kau telah membolos bersama Hasan. Kau berhak mendapatkan ganjaran dari ayahmu setimpal dengan apa yang kamu perbuat.
Badu : (malu, kaget, dan takut) Mati aku, pasti aku mendapat hadiah bogem mentah. Nasib, nasib …. ! (ke luar)
— End —
Loading...