SDN BLIMBING 3 KOTA MALANG
Santun Dalam Pekerti, Unggul Dalam Prestasi

Jan
16

Saya mendapatkan tulisan dari http://sastraindonesiaku.blogspot.com/ dengan judul Sastra Indonesia. Saya tampilkan kembali di blog ini karena dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah.

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
1. Pujangga Lama
2. Sastra “Melayu Lama”
3. Angkatan Balai Pustaka
4. Pujangga Baru
5. Angkatan ‘45
6. Angkatan 50-an
7. Angkatan 66-70-an
8. Dasawarsa 80-an
9. Angkatan Reformasi
Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar, yaitu: lisan dan tulisan.
Pujangga Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.

Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah Melayu
1. Hikayat Abdullah – Hikayat Andaken Penurat – Hikayat Bayan Budiman – Hikayat Djahidin – Hikayat Hang Tuah – Hikayat Kadirun – Hikayat Kalila dan Damina – Hikayat Masydulhak – Hikayat Pandja Tanderan – Hikayat Putri Djohar Manikam – Hikayat Tjendera Hasan – - Tsahibul Hikayat.

 

2. Syair Bidasari – Syair Ken Tambuhan – Syair Raja Mambang Jauhari – Syair Raja Siak
dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan syair lainnya.
Sastra “Melayu Lama”
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 – 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti “Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya”, Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra “Melayu Lama”

 

·      Robinson Crusoe (terjemahan)

·      Lawan-lawan Merah

·      Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)

·      Graaf de Monte Cristo (terjemahan)

·      Kapten Flamberger (terjemahan)

·      Rocambole (terjemahan)

·      Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)

·      Bunga Rampai oleh A.F van Dewall

·      Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe

·      Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan

·      Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya

·      Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)

·      Cerita Nyi Paina

·      Cerita Nyai Sarikem

·      Cerita Nyonya Kong Hong Nio

·      Nona Leonie

·      Warna Sari Melayu oleh Kat S.J

·      Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan

·      Cerita Rossina

·      Nyai Isah oleh F. Wiggers

·      Drama Raden Bei Surioretno

·      Syair Java Bank Dirampok

·      Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang

·      Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen

·      Tambahsia

·      Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo

·      Nyai Permana

·      Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya.

 

 

Angkatan Balai Pustaka


Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.

Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka
1. Merari Siregar
Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)
Binasa kerna gadis Priangan! (1931)
Tjinta dan Hawa Nafsu

 

 

2. Marah Roesli
Siti Nurbaya
La Hami
Anak dan Kemenakan
 

 

3. Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan
Hulubalang Raja (1961)
Karena Mentua (1978)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
4. Abdul Muis
Pertemuan Djodoh (1964)
Salah Asuhan
Surapati (1950)

 

 

5. Tulis Sutan Sati
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Disangka
Tak Membalas Guna
Memutuskan Pertalian (1978)
6. Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1964)
Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya

7. Suman Hs.
Kasih Ta’ Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)
Adinegoro
Darah Muda
Asmara Jaya

8. Sutan Takdir Alisjahbana
Tak Putus Dirundung Malang
Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)
Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

9. Hamka
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)
Tuan Direktur (1950)
Di dalam Lembah Kehidoepan (1940)

10. Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)
Sukreni Gadis Bali (1965)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)

 

 

11. Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)
12. Marius Ramis Dayoh
Pahlawan Minahasa (1957)
Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.

Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia.

Pada masa itu, terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 – 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok “Seni untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok “Seni untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan karya sastra Pujangga Baru
1. Sutan Takdir Alisjahbana
Layar Terkembang (1948)
Tebaran Mega (1963)

2. Armijn Pane
Belenggu (1954)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa – kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati – sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia – kumpulan cerpen (1953)

3. Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1954)
Buah Rindu (1950)
Setanggi Timur (1939)

4. Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1971)
Madah Kelana (1931/1978)
Sandhyakala ning Majapahit (1971)
Kertadjaja (1971)

5. Muhammad Yamin
Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1951)
Tanah Air

6. Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan (1953)
Pertjikan Permenungan (1953)
Selasih
Kalau Ta’ Oentoeng (1933)
Pengaruh Keadaan (1957)

7. J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)

Angkatan ‘45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ‘45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik – idealistik.

Penulis dan karya sastra Angkatan ‘45
1. Chairil Anwar
Kerikil Tadjam (1949)
Deru Tjampur Debu (1949)

 

 

2. Asrul Sani, Rivai Apin Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)
3. Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan

4. Pramoedya Ananta Toer
Bukan Pasar Malam (1951)
Ditepi Kali Bekasi (1951)
Gadis Pantai
Keluarga Gerilja (1951)
Mereka jang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Tjerita dari Blora (1963)

 

 

5. Mochtar Lubis
Tidak Ada Esok (1982)
Djalan Tak Ada Udjung (1958)
Si Djamal (1964)
6. Achdiat K. Mihardja
Atheis – 1958

 

 

7. Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)
Terjemahan karya W. Shakespeare: Hamlet, Impian di tengah Musim, Macbeth, Raja Lear, Romeo dan Julia, Saudagar Venezia, dll.
8. M.Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak, kumpulan cerpen (1978)

9. Utuy Tatang Sontani
Suling (1948)
Tambera (1952)
Awal dan Mira – drama satu babak (1962)

Angkatan 50-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan karya sastra Angkatan 50-60-an
1. Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Dua Dunia (1950), Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai (1960). Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

2. Ajip Rosidi
Cari Muatan
Di Tengah Keluarga (1956)
Pertemuan Kembali (1960
Sebuah Rumah Buat Hari Tua
Tahun-tahun Kematian (1955)

3. Ali Akbar Navis
Bianglala: kumpulan tjerita pendek (1963)
Hudjan Panas (1963)
Robohnja Surau Kami: 8 tjerita pendek pilihan (1950)

4. Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)

 

 

5. Enday Rasidin
Surat Cinta
6. Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)

7. Ramadhan K.H
Api dan Si Rangka
Priangan si Djelita (1956)

8. Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

9. Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)

10. Titis Basino
Pelabuhan Hati (1978)
Dia, Hotel, Surat Keputusan (cerpen) (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)
Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997); Menyucikan Perselingkuhan (1998)
Aku Supiah Istri Wardian (1998)
Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)
Terjalnya Gunung Batu (1998)
Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)
Rumah Kaki Seribu (1998)
Tangan-Tangan Kehidupan (1999)
Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)
Mawar Hitam Milik Laras (1999)

11. Toto Sudarto Bachtiar
Suara : kumpulan sadjak 1950-1955 (1962)
Etsa, sadjak-sadjak (1958)

12. Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)

13. W.S. Rendra
Balada Orang² Tertjinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)
dan banyak lagi karya sastra lainnya

Angkatan 66-70-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dll pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalah-pahaman; ia lahir mendahului jamannya.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.

Karya Sastra Angkatan ‘66
1. Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak

 

 

2. Abdul Hadi WM
Laut Belum Pasang – (kumpulan puisi)
Meditasi – (kumpulan puisi)
Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur – (kumpulan puisi)
Tergantung Pada Angin – (kumpulan puisi)
Anak Laut Anak Angin – (kumpulan puisi)
3. Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)
Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)
Perahu Kertas – (kumpulan puisi)
Sihir Hujan – (kumpulan puisi)
Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)
Arloji – (kumpulan puisi)
Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)

4. Goenawan Mohamad
Interlude
Parikesit
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)
Asmaradana
Misalkan Kita di Sarajevo

5. Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk – (kumpulan cerita pendek)
Lebaran di Karet, di Karet – (kumpulan cerita pendek)
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging -
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung

6. Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala

7. Putu Wijaya
Telegram
Stasiun
Pabrik
Gres – Putu Wijaya
Bom
Aduh – (drama)
Edan – (drama)
Dag Dig Dug – (drama)

8. Iwan Simatupang
Ziarah
Kering
Merahnya Merah
Koong
RT Nol / RW Nol – (drama)
Tegak Lurus Dengan Langit

9. Arifin C. Noer
Tengul – (drama)
Sumur Tanpa Dasar – (drama)
Kapai Kapai – (drama)

 

 

10. Djamil Suherman
Sarip Tambak-Oso
Umi Kulsum – (kumpulan cerita pendek)
Perjalanan ke Akhirat
Sakerah
dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dasawarsa 80-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi.

Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an
Antara lain adalah:
Badai Pasti Berlalu – Cintaku di Kampus Biru – Sajak Sikat Gigi – Arjuna Mencari Cinta – Manusia Kamar – Karmila

Mira W. dan Marga T. adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”.

Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.

Sastrawan Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra — puisi, cerpen, dan novel — pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Sastrawan Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki ‘juru bicara’, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Herliany.

 

 

1. Ayu Utami dengan karyanya Saman, sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung, lanjutan dari cerita Saman.

2. Abidah el Khalieqy
3. Afrizal Malna
4. Ahmad Nurullah
5. Ahmad Syubanuddin Alwy

6. Ahmadun Yosi Herfanda adalah salah seorang penyair yang dimasukkan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam Angkatan 2000, tapi ia sebenarnya telah banyak menulis sajak sejak awal 1980-an.

7. Dorothea Rosa Herliany
8. Seno Gumira Ajidarma
Cybersastra
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (internet) baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya.

 

Nov
11

Bahan-bahan:

1. Stryofoam tebal 1 cm

2. Penggaris

3. Pensil

4. Cat pewarna

5. Benang kasur

6. Pisau cutter

 

Langkah-Langkah pembuatan:

 

A. PERENCANAAN

            Ada 3 bagian dari layang-layang pesawat yang harus dibuat, yaitu: badan pesawat, sayap depan, dan sayap belakang.

a. Untuk badan pesawat berukuran 40 cm x 15 cm.

b. Untuk sayap depan berukuran 50 cm x 20 cm.

c. Untuk sayap belakang berukuran 18 cm x 8 cm.

 

B. PEMBUATAN

1. Buat gambar badan pesawat pada stryofoam berukuran 40 cm x 12 cm

2. Iris dan lubangi bagian tengah badan pesawat untuk tempat sayap sepanjang 15 cm.

3. Iris bagian ekor sepanjang 3 cm.

4. Iris bentuk badan pesawat menurut garis gambar menggunakan pisau cutter.

gbr-pswt-tempur1

 

 

 

5. Buat gambar sayap depan seperti di bawah ini pada styrofoam berukuran 50 cm x 20 cm. Lebar bagian tengah sayap 15 cm dan kedua ujung sayap lebarnya masing-masing 8 cm. Kemudian diiris menurut gambar.

6. Gambar bentuk sayap belakang seperti gambar di bawah ini pada styrofoam dengan ukuran 18 cm x 8 cm. Lebar bagian tengah sayap 6 cm dan kedua ujung sayap masing-masing 4 cm. Iris bagian tengah sepanjang 3 cm menurut garis gambar.

 

7. Ketiga bagian layang-layang pesawat selesai dibuat. Selanjutnya rangkaikan sesuai posisinya. Masukkan sayap depan dan belakang ke dalam masing-masing lubangnya.

8. Layang-layang pesawat tempur telah selesai dibuat, silakan diberi warna kesukaan.

 

 

 

 SELAMAT BERKREASI ANAK INDONESIA!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sep
08

AYO SEKOLAH

Suatu malam, Adi sedang belajar matematika. Dengan serius dia menghitung soal-soal pekerjaan rumahnya. Tak terasa hari sudah mulai larut malam. Mungkin karena sulitnya soal, Adi berpikir keras, hingga akhirnya dia tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi ….

Pagi menjelang, tiba-tiba Adi bangun dan tersentak kaget. Jam weker di meja belajarnya sudah menunjukkan pukul 06.30. Terlambat, pikir Adi. Dengan terburu-buru dia pergi ke kamar mandi, tak lupa gosok gigi, dan karena sudah terlambat Adi hanya cuci muka saja. Kemudian dia berganti pakaian dengan seragam sekolahnya.

Waduh, sudah jam 06.30 lewat! Dengan lebih cepat lagi, dia mengambil tas sekolahnya, menyambar sepeda pancalnya, lalu berangkat dengan cepat.

Di perjalanan Adi ngebut. Salip kanan, salip kiri, meluncur dengan cepat, tapi tak lupa menyapa tetangga. Tiba-tiba ada penyeberang jalan, dia mengerem mendadak sepedanya. Namun, untung tak dapat diraih, malang menimpanya. Tabrakan tak bisa dihindari. Adi jatuh bergulung-gulung, tapi anehnya dia tidak apa-apa, luka pun dia tidak merasa, sepedanya juga baik-baik saja. Dia langsung bangun dan mengambil sepedanya. Sembari membungkuk-bungkuk, dia meminta maaf dan menjelaskan mengapa terburu-buru; karena terlambat ke sekolah.

Wah! Sudah jam 7, rasanya kena marah Pak Guru. Adi meneruskan perjalanannya. Dia pacu sepedanya, tapi kali ini dia tidak berani mengebut. Sampai akhirnya, gerbang sekolah sudah kelihatan. Dengan wajah penuh ketakutan, dia menoleh ke kanan ke kiri. Mungkin ada teman yang terlambat juga.

Sesampai di depan sekolah, Adi membuka gerbang. Terkunci. Waduh, bagaimana ini? Dia melihat-lihat ke dalam lalu menggapai atas pagar, siapa tahu kelihatan penjaga sekolah. Sepi …, tidak ada seorang pun di dalam sekolah. Tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang. Ternyata Joko teman sekelasnya.

Ah, ternyata hari ini tanggal merah, hari libur. Lega dan malu bercampur jadi satu perasaan dalam hati Adi. Akhirnya, Adi pulang dengan tersenyum malu.

Sesampainya di rumah, Adi mengambil buku dalam tasnya untuk dibaca hingga akhirnya tertidur di meja belajarnya.

Tiba-tiba … “Adi, bangun! Kamu tidak berangkat sekolah? Ayo bangun, Nak!” ibunya membangunkan. Antara sadar dan tidak, Adi menunjuk kalender. “Hari ini libur, Bu”. “Lho, hei, lihat lagi kalendernya, ini bukan hari libur! Ayo bangun. Kamu sudah terlambat!”

Ha! Iya, hari ini bukan hari libur. Waduh, kurang lima menit lagi bel sekolah. Aduh Mak, ini kenyataan, yang tadi adalah mimpi. Wah, terlambat lagi ….

“Ayo, sekolah!!” bentak ibunya.

 

—- end —-

M. LAILAUSSARIF, S.S.

Mei
12

 

Oleh: Inamullah El Rahmani

Editor: Muh. Lailaussarif

 

I. Pengertian

            Salah satu unsur penting dalam pementasan teater adalah tata cahaya atau lighting. Lighting adalah penataan peralatan pencahayaan, dalam hal ini adalah untuk untuk menerangi panggung untuk mendukung sebuah pementasan. Sebab, tanpa adanya cahaya, maka pementasan tidak akan terlihat.  Secara umum itulah fungsi dari tata cahaya. Dalam teater, lighting terbagi menjadi dua yaitu:

  1. Lighting sebagai penerangan. Yaitu fungsi lighting yang hanya sebatas menerangi panggung beserta unsur-unsurnya serta pementasan dapat terlihat.
  2. Lighting sebagai pencahayaan. Yaitu fungsu lighting sebagai unsur artisitik pementasan.  Yang satu ini, bermanfaat untuk membentuk dan mendukung suasana sesuai dengan tuntutan naskah.

 

II. Unsur-unsur dalam lighting.

            Dalam tata cahaya ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan, antara lain :

  1. Tersedianya peralatan dan perlengkapan. Yaitu tersedianya cukup lampu, kabel, holder dan beberapa peralatan yang berhubungan dengan lighting dan listrik. Tidak ada standard yang pasti seberapa banyak perlengkapan tersebut, semuanya bergantung dari kebutuhan naskah yang akan dipentaskan.
  2. Tata letak dan titik fokus. Tata letak adalah penempatan lampu sedangkan titik fokus adalah daerah jatuhnya cahaya. Pada umumnya, penempatan lampu dalam pementasan adalah di atas dan dari arah depan panggung, sehingga titik fokus tepat berada di daerah panggung. Dalam teorinya, sudut penempatan dan titk fokus yang paling efektif adalah 450 di atas panggung. Namun semuanya itu sekali lagi bergantung dari kebutuhan naskah. Teori lain mengatakan idealnya, lighiting dalam sebuah pementasan (apapun jenis pementasan itu) tatacahaya harus menerangi setiap bagian dari panggung, yaitu dari arah depan, dan belakang, atas dan bawah, kiri dan kanan, serta bagian tengah.
  3. Keseimbangan warna. Maksudnya adalah keserasian penggunaan warna cahaya yang dibutuhkan. Hal ini berarti, lightingman harus memiliki pengetahuan tentang warna.
  4. Penguasaan alat dan perlengkapan. Artinya lightingman harus memiliki pemahaman mengenai sifat karakter cahaya dari perlengkapan tata cahaya.  Tata cahaya sangat berhubungan dengan listrik, maka anda harus berhati-hati jika sedang bertugas menjadi light setter atau penata cahaya.
  5. Pemahaman naskah. Artinya lightingman harus paham mengenai naskah yang akan dipentaskan. Selain itu, juga harus memahami maksud dan jalan pikiran sutradara sebagai ‘penguasa tertinggi’ dalam pementasan.

Dalam sebuah pementasan, semua orang memiliki peran yang sama pentingnya antara satu dengan lainnya. Jika salah satu bagian terganggu, maka akan mengganggu jalannya proses produksi secara keseluruhan. Begitu pula dengan “tukang tata cahaya’. Dia juga menjadi bagian penting selain sutradara dan aktor, disamping make up, stage manager, dan unsur lainnya. Dengan kata lain, lightingman juga harus memiliki disiplin yang sama dengan semua pendukung pementasan.

Dari paparan di atas, semuanya dapat dicapai dengan belajar mengenai tata cahaya dan unsur pendukung lainnya.

 

III. Istilah dalam tata cahaya.

1.      lampu: sumber cahaya, ada bermacam, macam tipe, seperti par 38, halogen, spot, follow light, focus light,  dll.

2.      holder: dudukan lampu.

3.      kabel: penghantar listrik.

4.      dimmer: piranti untuk mengatur intensitas cahaya.

5.      main light: cahaya yang berfungsi untuk menerangi panggung secara keseluruhan.

6.      foot light: lampu untuk menerangi bagian bawah panggung.

7.      wing light: lampu untuk menerangi bagian sisi panggung.

8.      front light: lampu untuk menerangi panggung dari arah depan.

9.      back light: lampu untuk menerangi bagian belakang panggung, biasanya ditempatkan di panggung bagian belakang.

10. silouet light: lampu untuk membentuk siluet pada backdrop.

11. upper light: lampu untuk menerang bagian tengah panggung, biasanya ditempatkan tepat di atas panggung.

12. tools: peralatan pendukung tata cahaya, misalnya circuit breaker (sekring), tang, gunting, isolator, solder, palu, tespen, cutter, avometer, saklar, stopcontact, jumper, dll.

13. seri light, lampu yang diinstalasi secara seri atau sendiri-sendiri. (1 channel 1 lampu)

14. paralel light, lampu yang diinstalasi secara paralel (1 channel beberapa lampu).

 

Seperti yang telah di ungkapkan di atas, secara sederhana hal-hal tersebut adalah yang pada umumnya harus diketahui oleh lightingman, selanjutnya baik tidaknya tatacahaya bergantung pada pemahaman, pengalaman dan kreatifitas dari lightingman. Intinya, jika ingin menjadi ‘lightingman sejati’,  Anda harus banyak belajar dan mencoba (trial and error).

 

ASAS-ASAS PENATAAN CAHAYA

Kursus ini meninjau cahaya dari segi teori dan manfaat mencahayakan suatu pementasan. Tumpuan diberikan terhadap hal-hal berikut:

  Fungsi dan kualitas cahaya

  Aspek rekabentuk dalam cahaya

  Asas elektrik; mengenali bentuk-bentuk seri dan paralel serta menggunakan undang-undang Ohm untuk menyelesaikan masalah tentang arus, rintangan, voltan dan tenaga.

  Aspek optik – iaitu aspek pantulan dan pembiasan cahaya di dalam berbagai permukaan jenis reflektor dan ciri-cirinya tentang pembiasan cahaya.

  Jenis dan fungsi lampu yang digunakan di dalam teater

  Kegunaan warna di dalam pementasan teori warna dan pengawalan warna

  Sistem pemalap [dimmer system] – manual dan memory

  Mencipta ‘light plot’ dan membentuk ‘lighting cues’

 

10 TRIK APLIKASI WARNA

1.         Aplikasi warna cerah pada salah satu elemen luar, misalnya untuk warna merah bata pada pagar, menjadi aksen untuk keseluruhan rumah.

2.         Warna netral untuk fasad bangunan lebih baik, tapi jika ingin menggunakan wana cerah, aplikasikan hanya pada satu bidang.

3.         Perpaduan warna cokelat dengan hijau dapat membuat atmosfer ruang menjadi lebih tenang.

4.         Abu-abu muda serta hijau kecokelatan mampu menghadirkan kecerahan dalam ruangan.

5.         Pada warna ruangan yang terlihat monoton, tambahkan cahaya buatan agar ruangan lebih “hidup”.

6.         Warna-warna lembut dan cahaya buatan yang temaram dapat memberikan kehangatan dan keakraban suasana pada ruang keluarga dan kamar tidur.

7.         Permainan dinding dengan warna natural akan membuat ruangan lebih luas.

8.         Warna dinding natural yang berbeda-beda pada setiap ruang akan menciptakan suasana yang berbeda pula untuk masing-masing ruang tersebut.

9.         Pagar merah bata, dinding abu-abu tua, dan dinding abu kecokelatan membuat tampilan rumah lebih dinamis.

10.    Untuk menghilangkan kesan gelap di kamar mandi, gunakan keramik warna krem pada dinding dan putih pada lantai.

Unsur dekor juga memanfaatkan cahaya untuk membantu suasana tertentu. Misalnya, cahaya terang menyiratkan siang hari, atau cahaya berwarna biru menyiratkan suasana malam hari. Cahaya berwarna juga digunakan untuk memberi aksentuasi pada adegan atau tokoh tertentu.

 

—- SELAMAT MENCOBA —-

 

 (Sorry, Nam. Diklatnya sudah selesai, tapi materimu barusan masuk emailku. Jadi aku terbitkan saja supaya berguna bagi siapa saja. Ok?